BERJALAN

SELAMAT DATANG DI ASOSIASI GURU PENULIS INDONESIA (AGUPENA)FLORES TIMUR

Jumat, 24 Juli 2015

WANITA PERKASA













Terpukau aku menatap wajahmu
Tertegun Aku melihat langkah kakimu
Berjalan mengintari bebatuan
Ada tutur kata terucap, ada damai yang kurasakan saat bersamu

Dikau Ibuku, yang membangunkanku dari mimpi
Menuju ke tempat peraduannku
Sebelum bunyi kendaraan berbising
Sebelum hari bermula dalam “pesta kerja”

Dikau seorang wanita, yang datang dari bukit desa
Dengan kakimu dikau melangkah
Seakan berlomba dengan Surya
Berjalan menuju gerbang sekolahmu yang tua

Diaku ibuku, yang membawa sejuta kebahagiaan
Bila sinarmu menyetuh wajahmu
Kepedihanku pun terhapuskan
Dikaui ibuku, wanita tangguh, wanita perkasa

Larantuka, 24 April 2015
Karya Agnetis Da Noa ( Guru Bahasa Inggris Pada SMPS Baipito Watowiti )
Karya ini Ia persembahkan buat Mamanya Silvina Iku yang adalah seorang Guru
            (Mama Silvina Iku)

GURU


Menatapmu selaksa kehidupan terbentang
Jiwamu terpatri menempah ilmu,
Tanpa memandang siapa diri kamu

Guru.....
Sebutir kasihmu memberi damai
Mencurahkan ilmu menggaungkan kebajikan
Menelurkan Generasi dari masa ke masa

Guru......
Pelita hidupku obor jalanku
Dalam menapaki hidup
Jasamu sungguh mulia seperti sabdamu yang merasuk sukma
untuk kebajikan

Karya
Tobias Ruron (Guru BK Pada SMP Negeri Satu Atap Riangpuho)

SABAR




Sakit masih nyeri
Warna masih ungu
Menempel pada pori-pori
Entah kapan ia akan pergi

Luka di ujung hati
Belum juga sembuh
 Masih mengoyak-ngoyak
Setiap kali naik ke otak

Sabarlah
Aku masih merayu
 Aku masih memohon
Aku masih bersujud
 pada hati ini

Sabarlah
 Aku akan menghampirimu
 Aku akan membelaimu
 Akan kuucapkan
 Aku menerimamu.

Karya : Ance Namang
(Guru SMEA Lamaholot Larantuka)

KAU DAN HUJAN



Ku daki gunung
Ku tanggalkan jubah
Hijaumu
Ku letakkan di tepi
 ranjangmu
Bergelorah,
 Mendesis,
Berkeringat,
Terkulai Lemas.

Puass !!
 Melihat tubuhmu bersih.
Tak satu pun rumput di sana
Karena telah kucumbui
dirimu mesra
Dengan tangan-tangan
perkasaku.

Kini kau dan hujan
 sedang beradu dalam cinta
 Untuk sebuah kehidupan.
Aku pun turut bahagia
 Semoga melahirkan kemakmuran bagi insan
yang hidup.

Karya : Ance Namang
(Guru SMEA Lamaholot Larantuka)

ANTARA PERUBAHAN KURIKULUM DAN GURU



OPINI

                                                                             Oleh
Maksimus Masan Kian, S.Pd
(Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia/ AGUPENA Kabupaten Flotim)

Opini ini telah diekpos oleh Koran Harian Umum Flores Pos Pada Selasa, 14 Juli 2015 pada Rubrik Opini
 


Kurikulum menjadi tema diskusi yang hangat akhir- akhir ini. Baik dimedia sosial maupun dikalangan pengamat pendidikan, kepala sekolah, guru, para orang tua, dan masyarakat pada umumnya. topik ini kembali diperbincangkan saat munculnya wacana akan adanya pergantian lagi kurikulum yang saat ini sementara diberlakukan yakni kurikulum 2013 (K13), dan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan( KTSP). Kedua kurikulum ini sesuai dengan wacana akan digantikan dengan Kurikulum Nasional (KN)  pada tahun 2018.
Pemerintah seolah gemar dan aktif melakukan perubahan kurikulum, dari tahun ke tahun dan dari masa kepemimpinan politik yang satu ke masa kepemimpinan politik berikutnya. Realitas yang terjadi di daerah – daerah kadang kurang diperhatikan sebagai sebuah pertimbangan pokok mengambil keputusan. Guru dalam kebingungan. Sebuah  kurikulum yang belum tuntas penerapannya, dalam perjalanan waktu sudah diganti. Guru kemudian diperhadapkan lagi pada sebuah hal yang baru. Sementara itu, sosialisasi, pelatihan dan pendampingan guru untuk memahami sebuah kurikulum sangat minim dan tidak melibatkan guru secara keseluruhan. Adanya pelatihanpun terksesan hanya asal jadi. Ini terasa di daerah.
Sangat fenomenal, disaat keputusan merubah K13 menjadi KTSP, mengapa demikian? Penerapan K13 pengganti KTSP yang baru berlaku  enam bulan secara serentak untuk seluruh sekolah di Indonesia yakni pada semester pertama tahun ajaran 2014/ 2015 dimasa kepemimpinan Menteri Pendidikan Muhamad Nuh kabinet Susilo Bambang Yudoyono, oleh menteri  Pendidikan Anies Baswedan  kabinet kerja Bapak Joko Widodo menghentikannya pada akhir semester pertama. Perubahan kurikulum terjadi pada masa transisi antara semester pertama dan semester kedua.
Melalui surat bernomor 179342/MPK/KR/2014  tanggal 5 Desember 2014, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional  Anies Baswedan memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan kurikulum 2013 di sekolah –sekolah yang baru menerapkan satu semester, yaitu sejak tahun pelajaran 2014/ 2015. Sekolah –sekolah ini supaya kembali menggunakan kurikulum 2006. Sementara sekolah – sekolah yang sudah mengimplementasikan kurikulum selama tiga semester, yaitu sejak tahun pelajaran 2013/ 2014 tetap menerapkan Kurikulum 2013, dan sekolah – sekolah tersebut kemudiaan akan dijadikan sebagai sekolah pengembangan  dan percontohan penerapan kurikulum 2013. Proses pemberhentiaan Kurikulum 2013 berangkat dari evaluasi yang dilakukan oleh tim evaluasi kurikulum 2013 bentukan menteri Kebudayaan Pendidikan dasar dan Menegah Anies Baswedan.Maka  kemudian, lahirlah Permendikbud nomor 160 tahun 2014 tentang pemberlakuan kurikulum 2006 dan kurikulum 2013.
Saat ini kurang lebih ada 16.791 sekolah yang menerapkan K13, dengan rincian 7.961 sekolah sebagai pilot projek, dan sisanya 8.830 menerapakan K13 secara mandiri. Lebih banyak sekolah yang menerapakan KTSP. Sepanjang sejarah penerapan kurikulum di Indonesia sebelumnya, belum pernah ada penerapan dua kurikulum secara bersamaan. Oleh banyak kalangan menilai bahwa, langkah yang diambil oleh Anies Baswedan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional ini merupakan sebuah langkah yang tepat dalam upaya untuk melakukan evaluasi yang mendalam terlebih dahulu tentang sebuah kurikulum sebelum diterapkan. Sementara itu, tidak sedikit juga orang  membuat kritik atas langkah yang diambil oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional ini. Menurut mereka, keputusan yang diambil oleh Bapak menteri  memberlakukan kembali KTSP adalah sebuah langkah mundur dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Kurikulum menurut UU No. 20 tahun 2003 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Kurikulum memegang peranan yang penting dan strategis dalam mengukur kualitas dan perkembangan pendidikan secara nasional. Tak heran, sejak negara ini berdiri, sudah sekian kali kurikulum mengalami perubahan dan pembaharuan, mulai dari tahun 1947- dengan sistem Leer Plan (Rencana Pelajaran), 1952-Rencana Pelajaran Terurai,1964-Rentjana Pendidikan,  1968-Kurikulum 1968, 1975-Kurikulum 1975,  1984-Kurikulum 1984, 1994 dan 1999-Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999,  2004-Kurikulum Berbasis Kompetensi,  2006-Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, dan tahun 2013-Kurikulum 2013.
Argumentasi pergantian sebuah kurikulum biasanya adalah, “perubahan dalam rangka penyempurnaan, pembaharuaan dan lain sebagainya. Dr. Unifah Resyadi Direktorat Jederal Ketenagaan Pendidikan Kementriaan Pendidikan Nasional mengatakan,  pergantian Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Nasional merupakan upaya perbaikan atau penyempurnaan terhadap kurikulum 2013. Lebih dari setahun penerapan Kurikulum 2013, masih diwarnai permasalahan demi permasalahan, diantaranya belum pahamnya guru dalam menerapan K13, kacauya distribusi buku, dan akhir- akhir ini ditemukan isi buku yang memuat ajaran – ajaran radikal. “ kami berpikir bahwa kurikulum 2013 ini bagus, tapi juga tidak lepas dari kekurangan. Nah, kekurangan ini, sedang diperbaiki. Saat ini belum dilakukan sosialisasi karena masih fokus pada perbaikan  kurikulum 2013.
Agar dikemudian  hari tidak menimbulkan polemik akan  penerapan Kurikulum Nasional, baiklah ada upaya mendahului pengambilan keputusan diantaranya pertama Sosialisasi serius. Tak cukup hanya dengan melakukan sosialisasi, tetapi sosialisasi yang serius. Sosialisasi yang serius menjadi hal pokok dan penting. Sosialisasi akan membuat lebih banyak orang tau, dan membuat lebih banyak orang lebih siap akan sebuah hal baru yang ingin diterapkan.  Kepala sekolah, guru, orang tua, siswa wajib mendapat sosialisasi tentang sebuah kurikulum baru yang akan diterapkan. Pemahaman yang baik akan memudahkan dalam implementasinya. Kedua, pelatihan yang serius.  Pelatihan yang serius, patut dan layak dilakukan sebelum menerapkan sebuah kurikulum baru. Bicara soal pelatihan, ini seakan menjadi momok. Ambil contoh K13, dikatakan pelatihan, namun yang terjadi lebih banyak memaparkan teori. Guru sebatas mengetahui teori tentang K13, esensi dari pelatihan itu belum tersentuh. Pelatihan,  mestinya guru diberikan kesempatan untuk mengalami secara langsung. Guru dilatih secara rutin. Pelatihan yang rutin akan membangun pemahaman dan kemahiran bagi guru dalam menerapkan sebuah kurikulum yang baru. Saat ini ditahun –tahun pematangan K13, pelatihan seolah mati suri. Tak ada lagi geliat pelatihan kepada guru – guru tentang K13. Ketiga  penyediaan fasilitas. Ketersediaan fasilitas yang memadai, akan mempermudah guru memahami dan mampu mengimplementasikan sebuah kurikulum. Bisa dibayangkan, guru dituntut untuk melakukan penilain berdasarkan format penilaian K13, sementara penguasaan komputerisasi masih lemah, terdapat sekian banyak sekolah dipelososok yang masih mengandalkan lampu pelita, sekolah pada wilayah tanpa ada sinyal telkomsel, menambah daftar kesulitan guru. Tak hanya itu, jarak  sekolah yang jauh dengan pusat kota berakibat pada kacaunya pendistribusian buku. Buku datang diakhir semester. Ceritra memang berbeda dengan ketersediaan fasilitas pada sekolah diwilayah perkotaan. Keempat, regulasi. Regulasi harus jelas dalam memayungi penerapan sebuah kurikulum. Perlu ada kejelasan batasan waktu, sebuah kurikulum mengalami pembaharuan, jika memang harus diperbaharui. Jangan terkesan buru – buru. Dan jika mengalami pembaharauan idealnya berangakat dari investigasi, survei dan evaluasi mendalam, tidak sekedar merubah dan mengabaikan analisis asas manfaatnya. Efektivitas implementasi sebuah kurikulum harus diketahui.
Seperti apa Kurikulum Nasional? sosialisasi dan pelatihan kepada Guru dinanti sebelum implementasinya. ***

GURU PENULIS; BISA






AgupenaNews, LARANTUKA, 24 Juli 2015
Guru penulis; bisa. Demikian tema yang diangkat oleh pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia ( Agupena) Cabang Flores Timur( Flotim) pada diskusi Minggu,( 19/7/15) di Sekretariat Agupena Flotim.
Diskusi yang berlangsung pada Minggu sore itu, menghadirkan 6 orang Pembicara utama yakni Anggota DPRD Flotim Agustinus Payong Boli, Januarius Jawa Bala, Pengamat Seni NTT Silvester Petara Hurit, Wartawan TVRI Patman Werang, Wento Eliando wartawan Flores Pos dan Valens Hadjon Wartawan Media Cakrawala Pendidikan NTT.
Diskusi yang dipandu oleh Krisantus Minggu Kwen Pengurus inti Agupena Flotim berlangsung seru. Pembicara diberikan kesempatan masing - masing 10 menit untuk menyampaikan pikirin, konsep dan gagasan terkait Guru dan aktivitas menulis serta bagaimana langkah yang perlu dilakukan Agupena Flotim kedepan untuk menjaga eksistensi organisasi. Dilanjutkan saling shering dan dialog melibatkan semua pengurus dan anggota yang hadir pada pertemuan malam itu.
Januarius Jawa Bala, anggota DPRD Kabupaten Flores Timur merasa senang berada diatara teman teman Agupena Flotim. Baginya, menulis adalah keabadiaan. Seorang Penulis  dikenang hingga keabadiaan. Walau sudah matipun seorang penulis tetap dikenang, bahkan hingga ribuan tahun. " Saya menulis maka saya ada. Menulis sebenarnya untuk menegaskan diri kita. Upaya meformat diri. Tak perlu menghayal menjadi seorang penulis besar dalam waktu yang singkat. Semua bermula dari yang kecil dan sederhana. Mulailah menulis aktivitas harianmu dalam sebuah buku agenda harian. Prilaku ini sangat membantu anda untuk bisa menulis, kata Januarius.
Agustinus Payong Boli memberikan apresiasi atas forum diskusi yang digagas oleh Agupena Flotim. Semakin banyak diskusi, pengetahuan kita menjadi semakin luas. Agus Boli dalam paparannya mengatakan seturut Undang Undang( UU) Sistem Pendidikan Nasional ( Sikdinas) Nomor 20 Tahun 2003, guru dituntut lebih untuk menemukan sesuatu dalam aktivitas hariannya. Guru tidak hanya sebagai seorang Jubir yang setiap harinya mentrasfer ilmu saja, namun lebih dari pada itu, Guru harus bisa mendidik dan menghasilkan karya - karya lain yang bermanfaat untuk publik. Bagi Agus, Guru itu Pioner Pembangunan. Guru menjadi garda terdepan dalam peradaban bangsa. Dalam hubungan menulis yang dilakoni oleh Guru, tentu tidak sulit, Mengapa? karena guru dalam aktivitas hariannya tidak terlepas dari menulis. Buku agenda harian akan menjadi solusi untuk membantu guru menulis. Tulislah, apa saja yang dialami pada setiap harinya. Dari sanalah, memotivasi anda untuk menulis hal - hal lain yang cangkupannya lebih luas. Kata Agus.

Ia melanjutkan, menjadi guru harus menjadi guru yang hidup. Guru yang hidup, akan terus meningkatkan kompetensi dan kapasitasnya. Dan salah satu jalan untuk meningkatkan kapasitas guru adalah dengan Menulis. Kami anggota legisltif pada rana kebijakan akan membantu teman teman.
Sementara itu, pengamat seni NTT Silvester Petara Hurit mengatakan " Adalah sebuah peyimpangan kalau guru tidak bisa atau tidak mampu untuk menulis. Untuk bisa menulis tentunya menjadi pembaca yang baik, mengagungkan diskusi dan terus mengakses informasi - informasi aktual. Hidupkan komunitas - komunitas intelektual sebagai sebuah proses pematangan kemampuan.Proses yang ditekuni tidak akan pernah sia - sia. Perlu adanya saling suport satu dengan yang lain. Sebuah pemikiran itu peting dan sebuah tulisan itu berharga. Berkaryalah dengan keberanian. Karena karakter berani itu penting. Dengan membaca memulihkan keberaniaan.Rajin membaca menjadi modal yang kuat dalam menulis. Dan menulis adalah alat promosi diri yang paling ampuh. Demikian pesan Silvester.

Patman Werang, Wartawan TVRI mengatakan, banyak orang memiliki kemampuan namun sulit menulis diakibatkan karena masih melekatnnya perasaan malu. malu salah,malu dinilai jelek. Rasa malu ini harus dihilangkan. Patman Werang pada kesempatan itu, mengajak Agupena Flotim untuk bisa menghadirkan sebuah media  lokal khusus pendidikan di Kabupaten Flores Timur
Wento Eliando, Wartawan Flores Pos malam itu memberikan ruang kepada anggota Agupena Flotim untuk membuat tulisan jenis apa saja terkait Diskusi yang berlangsung untuk nanti akan dipublikasikan di Flores Pos. " Teman - teman Agupena Flotim bisa membuat tulisan jenis apa saja terkait diskusi kita malam ini, Florespos mengeksposnya. Ini dilakukan sebagai upaya memotivasi guru untuk menulis. Wento mengatakan untuk menulis, butuh kepekaan akan apa saja  yang terjadi di sekitar kita. Selalu bertanya dan kemudian menulis sebagai bagian dari solusi atas masalah yang ditemukan.
Valens Hadjon Wartawan Cakrawala NTT mengapresiasi Agupena Flotim, Ia mengatakan, Agupena Flotim menjadi wadah pioner, bagi guru guru di Flotim dalam mengembangkan kapasitasnya. Majalah kami Cakrawala NTT selama ini sudah memberikan ruang kepada anggota Agupena menuangkan tulisan - tulisannya. Kita akan tetap membangun kerja sama yang baik. Kata Valens.
Diakusi malam itu berlangsung hangat. Peserta sangat antusias membagikan pengalaman dan mensheringkan kesulitan kesulitan dalam menulis.
Elfrid Sutomo guru SMK Negeri  1 Larantuka mengaku senang dan bangga mendapatkan informasi dan pengalaman - pengalaman dalam dunia menulis. Baginya, diskusi memang harus terus dibangun untuk saling mengisi dan berbagi untuk mengatasi kesulitan dan mengisi kekurangan.
Ketua Agupena Flotim Maksimus Masan Kian pada kesempatan itu menyampaikan apresiasi kepada para pembicara dan peserta yang hadir. Menurut Maksi,kehadiran teman - teman mengindikaskan bahwa teman teman masih memiliki semangat yang kuat dan Kokoh." Saya memberikan apresiasi kepada Pembicara dan peserta yang hadir, karena saya meyakini bahwa kehadiran teman teman sebagai bukti bahwa masih ada niat dan motivasi untuk berproses bersama Agupena Flotim, dalam upaya meningkatkan kemampuan Guru khusus dalam dunia menulis. Agupena Flotim, tidak memiliki apa - apa, kami hanya memiliki semangat. Semangat inilah yang akan mendorong kami untuk terus berkarya dalam membantu teman teman guru secara khusus dan pemerinta Daerah secara umum",kata Maksi. ***